Rezim Soeharto saat ini sudah kehabisan 'wahyu' sehingga semua yang dilakukannya mencerminkan pribadi aslinya, mental gento gunung. Simak saja cara-cara yang dipakainya untuk 'menenangkan' rakyat; mengadu domba tentara dengan rakyat, mereka dipaksa hantam-hantaman sendiri. Akhirnya pentungan listrik, sangkur, gas air mata dan bedil dipakai untuk membantai rakyat yang tidak bersenjata. Sebagai presiden seharusnya Soeharto malu dan tidak tega melihat tentaranya melakukan kekejamam pengecut demikian, tentara-tentara kroco tersebut benar-benar dijadikan monster berjiwa iblis, sejarah akan mencatat kebiadaban mereka sepanjang masa, kroco-kroco tersebut akan memikul dendam dosa yang seharusnya menjadi tanggungan Soeharto.
Para mahasiswa harus sadar bahwa kroco-kroco tersebut adalah korban ketidak adilan rezim Soeharto juga, mereka diperlakukan seperti anjing berburu yang harus mematuhi perintah pawangnya, untuk itulah sudah saatnya dilakukan pola baru agar kita tidak perlu bentrok dengan kroco-kroco itu, tetapi para pawang-pawang kecilnya saja yang disandera agar kroco-kroco tersebut menjadi jinak.
Dengan melawan kroco-kroco tersebut kita sudah salah sasaran dan memberikan pawang-pawang tersebut alasan pembenaran untuk berbuat anarkis. Perlu dijaga juga jangan sampai ada anggota 'selundupan' yang memicu berbuat anarkis, seperti perusakan-perusakan baik milik swasta atau negara, karena hal ini adalah skenario rezim untuk memisahkan mahasiswa denganrakyat, menghilangkan simpati rakyat, tanpa dukungan rakyat gerakan mahasiswa nol besar. Sudah sangat mendesak menyadarkan kroco-kroco tersebut baik dengan himbauan maupun poster-poster yang bisa mengembalikan harkat kroco-kroco tersebut, bahwa mereka adalah manusia bukan anjing, jadi harus berani menolak perintah yang merendahkan martabat mereka.
Lihat saja 'operasi' penculikan para aktivis ternyata dipimpin langsung oleh pawang gede jaya sendiri, waktu mengorek-orek pengakuan para korban suara sang pawang sangat dikenali oleh para korban. Kroco mana yang berani membangkang kalau panglimanya sendiri sudah turuntangan?. Pawang ini menjadi berani karena diperintah langsung dan di-backing oleh menantu Soeharto, tentara karbitan yang sadisnya setara dengan mertuanya. Kasihan keluarga sang pawang jiwanya jadi rusak sejak dipaksa jadi algojo di Timtim, berubah menjadi monster haus darah yang gampang main tangan.
Inilah salah satu hasil karya mantu Soeharto, bocah minder yang menjadi beringas untuk menutupi kepengecutannya. Menghadapi tokoh-tokoh yang berbobot tidak berani,makanya mahasiswa atau aktivis pemula yang dimangsanya. Sekarang dia sedang menyiapkan skenario baru untuk mengalihkan kemarahan rakyat Indonesia pada Amerika, agar Soeharto terlupakan bejadnya. Dengan uangnya dia bayar para pakar komersial untuk membuat skenario yang bisa 'diterima' oleh rakyat bahwa Amerika ternyata merusak ekonomi Islam Indonesia. Dia berusaha membangkitkan sentimen warga Muslim Indonesia pada Amerika, sehingga perhatian rakyat pada Soeharto beralih. Iseng2 saja jalan-jalan ke Carita, di Mabruk Hotel sedang berkumpul pakar-pakar bayaran itu untuk merancang isu-isu Anti-Amerika. Cara-cara demikianlah rupanya yang selalu dipakai rezim ini untuk melanggengkan kekuasaannya, selalu menciptakan kambing hitam.
Patut digali ulang apakah GPK, PRD, OTB, ekstrim kiri, ekstrim kanan dan lain-lain 'musuh' imaginer yang diciptakan penguasa itu benar2 bersalah atau hanya sebagai kambing hitamnya Soeharto untuk melanggengkan kekaisarannya saja. Karena sekarang rezim Soeharto sudah mulai memakai lidah beracunnya dengan mengatakan bahwa dibelakang gerakan-gerakan mahasiswa ini adalah anak-anak PKI. Dari buku sejarah yang diterbitkannya PKI adalah organisasi yang sadis, sedangkan gerakan mahasiswa tidak sadis tetapi justru jadi korban kesadisan kaki tangan rezim Soeharto, takutnya justru Soeharto-lah yang PKI tersembunyi.
Indikasi sudah jelas sekali: pemiskinan rakyat Indonesia. Menaikan suku bunga SBI sehingga ekonomi rakyat hancur total dalam situasi krisis, dilanjutkan dengan menaikan harga BBM dan tarif listrik jelas tindakan terencana dengan tameng atas 'perintah' IMF. Kalau niatnya tulus dalam memenuhi butir-butir kesepakatan dengan IMF, tentunya Soeharto bisa menerapkan skala prioritas, sektor-sektor mana yang harus dihapus subsidi-nya dahulu, setelah kondisi ekonomi membaik barulah mencabut subsidi BBM. Kenapa Soeharto tidak memangkas subsidi perkebunan, subsidi ekspor, subsidi power-plain, dan lain-lain dan memangkas anggaran sekneg, anggaran DPR/MPR anggaran ABRI, anggaran perjalanan/sidang dan sebagainya, untuk menutupi biaya subsidi BBM dan listrik? Tujuannya hanya satu menghancurkan ekonomi rakyat Indonesia!!. PKI tumbuh subur dalam masyarakat yang sengsara dan miskin.
Mengingat sudah tidak ada sisa lagi kenazisan yang belum dilakukan oleh rezim ini, intimidasi, fitnah, adu domba, arogan, korupsi, manipulasi dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain, maka sudah tidak ada harapan lagi rakyat Indonesia untuk hidup berkah, karena udara indonesia sudah dipenuhi oleh debu-debu kenazisan tersebut, hanya satu cara untuk menyucikan udara Indonesia yaitu lenyapkan sumber dari segala sumber kenazisan itu! Soeharto.
Para mahasiswa harus sadar bahwa kroco-kroco tersebut adalah korban ketidak adilan rezim Soeharto juga, mereka diperlakukan seperti anjing berburu yang harus mematuhi perintah pawangnya, untuk itulah sudah saatnya dilakukan pola baru agar kita tidak perlu bentrok dengan kroco-kroco itu, tetapi para pawang-pawang kecilnya saja yang disandera agar kroco-kroco tersebut menjadi jinak.
Dengan melawan kroco-kroco tersebut kita sudah salah sasaran dan memberikan pawang-pawang tersebut alasan pembenaran untuk berbuat anarkis. Perlu dijaga juga jangan sampai ada anggota 'selundupan' yang memicu berbuat anarkis, seperti perusakan-perusakan baik milik swasta atau negara, karena hal ini adalah skenario rezim untuk memisahkan mahasiswa denganrakyat, menghilangkan simpati rakyat, tanpa dukungan rakyat gerakan mahasiswa nol besar. Sudah sangat mendesak menyadarkan kroco-kroco tersebut baik dengan himbauan maupun poster-poster yang bisa mengembalikan harkat kroco-kroco tersebut, bahwa mereka adalah manusia bukan anjing, jadi harus berani menolak perintah yang merendahkan martabat mereka.
Lihat saja 'operasi' penculikan para aktivis ternyata dipimpin langsung oleh pawang gede jaya sendiri, waktu mengorek-orek pengakuan para korban suara sang pawang sangat dikenali oleh para korban. Kroco mana yang berani membangkang kalau panglimanya sendiri sudah turuntangan?. Pawang ini menjadi berani karena diperintah langsung dan di-backing oleh menantu Soeharto, tentara karbitan yang sadisnya setara dengan mertuanya. Kasihan keluarga sang pawang jiwanya jadi rusak sejak dipaksa jadi algojo di Timtim, berubah menjadi monster haus darah yang gampang main tangan.
Inilah salah satu hasil karya mantu Soeharto, bocah minder yang menjadi beringas untuk menutupi kepengecutannya. Menghadapi tokoh-tokoh yang berbobot tidak berani,makanya mahasiswa atau aktivis pemula yang dimangsanya. Sekarang dia sedang menyiapkan skenario baru untuk mengalihkan kemarahan rakyat Indonesia pada Amerika, agar Soeharto terlupakan bejadnya. Dengan uangnya dia bayar para pakar komersial untuk membuat skenario yang bisa 'diterima' oleh rakyat bahwa Amerika ternyata merusak ekonomi Islam Indonesia. Dia berusaha membangkitkan sentimen warga Muslim Indonesia pada Amerika, sehingga perhatian rakyat pada Soeharto beralih. Iseng2 saja jalan-jalan ke Carita, di Mabruk Hotel sedang berkumpul pakar-pakar bayaran itu untuk merancang isu-isu Anti-Amerika. Cara-cara demikianlah rupanya yang selalu dipakai rezim ini untuk melanggengkan kekuasaannya, selalu menciptakan kambing hitam.
Patut digali ulang apakah GPK, PRD, OTB, ekstrim kiri, ekstrim kanan dan lain-lain 'musuh' imaginer yang diciptakan penguasa itu benar2 bersalah atau hanya sebagai kambing hitamnya Soeharto untuk melanggengkan kekaisarannya saja. Karena sekarang rezim Soeharto sudah mulai memakai lidah beracunnya dengan mengatakan bahwa dibelakang gerakan-gerakan mahasiswa ini adalah anak-anak PKI. Dari buku sejarah yang diterbitkannya PKI adalah organisasi yang sadis, sedangkan gerakan mahasiswa tidak sadis tetapi justru jadi korban kesadisan kaki tangan rezim Soeharto, takutnya justru Soeharto-lah yang PKI tersembunyi.
Indikasi sudah jelas sekali: pemiskinan rakyat Indonesia. Menaikan suku bunga SBI sehingga ekonomi rakyat hancur total dalam situasi krisis, dilanjutkan dengan menaikan harga BBM dan tarif listrik jelas tindakan terencana dengan tameng atas 'perintah' IMF. Kalau niatnya tulus dalam memenuhi butir-butir kesepakatan dengan IMF, tentunya Soeharto bisa menerapkan skala prioritas, sektor-sektor mana yang harus dihapus subsidi-nya dahulu, setelah kondisi ekonomi membaik barulah mencabut subsidi BBM. Kenapa Soeharto tidak memangkas subsidi perkebunan, subsidi ekspor, subsidi power-plain, dan lain-lain dan memangkas anggaran sekneg, anggaran DPR/MPR anggaran ABRI, anggaran perjalanan/sidang dan sebagainya, untuk menutupi biaya subsidi BBM dan listrik? Tujuannya hanya satu menghancurkan ekonomi rakyat Indonesia!!. PKI tumbuh subur dalam masyarakat yang sengsara dan miskin.
Mengingat sudah tidak ada sisa lagi kenazisan yang belum dilakukan oleh rezim ini, intimidasi, fitnah, adu domba, arogan, korupsi, manipulasi dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain, maka sudah tidak ada harapan lagi rakyat Indonesia untuk hidup berkah, karena udara indonesia sudah dipenuhi oleh debu-debu kenazisan tersebut, hanya satu cara untuk menyucikan udara Indonesia yaitu lenyapkan sumber dari segala sumber kenazisan itu! Soeharto.
Gejala-gejala perpecahan persatuan Indonesia sudah terasa sejak pengtaka-takaan SARA, terutama Islam dengan Non-Islam, untuk ini kita harus sadar bahwa perbedaan itu sebenarnya tidak pernah berarti bila tidak dipicu oleh rezim Soeharto sendiri dengan mendramatisir perbedaan tersebut dengan isu yang diberinya sandi Sara, tanpa istilah SARA kita tidak bakal merasa berbeda. Dengan perlakuan yang satu anak emas yang lain anak tiri secara bergantian adalah salah satu strategi untuk menimbulkan kecemburuan sosial yang berdampak perpecahan, rakyat Indonesia jangan terus hanyut oleh skenario Soeharto tersebut, karena ini adalah senjata pamungkasnya.
Sekarang beredar pemikiran untuk merubah bentuk negara Indonesia dari Republik kesatuan menjadi negara Federal (serikat), pola pikir dari pribadi yang sudah putus harapan yang tidak tahan dengan tekanan Soeharto, karena dengan terbentuknya negara-negara bagian akan lebih memicu perang saudara. Padahal musuh rakyat Indonesia adalah rezim serakah ini, bukan agama atau ras tertentu, sistem sentralisasi-lah yang menyengsarakan rakyat-rakyat diluar Jawa, jadi yang dibutuhkan adalah reformasi politik secara total, diawali dengan penurunan Soeharto, bukan 'ngaplingi' Indonesia.
Soeharto layak mendapat penghargaan baru sebagai BAPAK PEMISKINAN INDONESIA, untuk itulah perlu dihadiahkan SAMURAI kecil padanya sebagai medali penghargaan. Karena reformasi politik yang harus dilakukan pemerintah diakhiri dengan BUNUH DIRI seluruh anggota Rezim.
Ditulis oleh: Sabferial Fernando Imam
Diedit oleh: Reno Felani Hamilton

0 comments
Post a Comment